Minggu, 26 Oktober 2014

Kuliah dan Kerja




Uang bukanlah segalanya, tapi kita tidak bisa memungkiri bahwa uang juga termasuk ke dalam salah satu media yang dapat mempertahankan hidup kita. Jika dilihat secara personal, anggapan ini mungkin belum tentu benar. Secara umumnya kita bisa melihat bahwa orang-orang yang mencari uang adalah sebuah usaha untuk mempertahankan kehidupannya, dan orang yang bekerja, belum tentu untuk mencari uang. Tapi bagi anda yang berstatus pelajar/mahasiswa dan ingin mencoba ingin mandiri, dalam hal finansial tentunya. Tentu anda juga akan berusaha mencari uang untuk dapat memenuhi kebutuhan, karena itu adalah salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan anda.
Keputusan untuk kerja sambil kuliah atau sekolah sebenarnya memiliki resiko, tapi tingkat resiko tersebut pasti berbeda-beda berdasarkan pekerjaan yang anda geluti. Setidaknya, anda terkadang merasa kesulitan dalam mengatur waktu antara kuliah dan kerja, apalagi jika pekerjaan tersebut bersifat terikat, anda akan sering dihadapkan oleh kendala-kendala. Salah satunya seperti jadwal kerja bentrok dengan jadwal kuliah. Atau kelelahan, karena stamina anda telah terkuras ketika bekerja. Tapi, jika anda bekerja tanpa keterikatan (freelance) atau dengan sistim shift, setidaknya anda bisa meminimalkan resiko tersebut dengan cara mengatur antara jadwal kerja dengan jadwal kuliah.
Resiko lain yang biasanya terjadi ketika sekolah/kuliah sambil bekerja adalah dapat menyebabkan anda justru menjadi malas sekolah/kuliah. Mungkin ada sebagian orang yang tidak bersikap seperti ini, tapi melihat fenomena-nya, rata-rata memang seperti itu kenyataannya. Ilustrasinya, ketika anda sudah bisa menghasilkan uang, maka anda akan asyik dengan pekerjaan anda tersebut (karena anda sudah memiliki penghasilan), kemudian akan menyebabkan anda menjadi kurang fokus terhadap sekolah/kuliah anda.
Hal-hal tersebut adalah beberapa resiko yang biasanya sering terjadi. Namun keuntungan dari sekolah sambil bekerja adalah, anda akan mendapatkan banyak pengalaman yang bisa dijadikan pedoman atau gambaran untuk kedepannya. Minimal anda dapat mengerti serta memahami bahwa “Cari uang itu susah”. Kalo nggak percaya, coba anda jalan kaki sepanjang 5km, berapa rupiah uang yang bisa anda temukan di sepanjang perjalanan itu?!
“Untuk dapat bertahan hidup, adakalanya kita diharuskan untuk melewati jalan berliku. Dan ilmu bertahan hidup hanya bisa di dapatkan bagi anda yang mandiri dan ingin berusaha berdiri dengan kaki anda sendiri “ :-D
Jika anda memang harus bekerja, cobalah untuk memilih pekerjaan yang tidak terikat. Seperti menjadi freelancer, atau bisa juga dengan sistim shift. Dan jangan pernah lupa! Pendidikan itu tetap no.1. So, tetaplah prioritaskan sekolah/kuliah anda. Keep struggle to get the freedom…, Merdeka!!

Pemuda dan Fenomena Cabe-cabean

Malam guys, di Sevel ini tepatnya jam 19:29 gue mau share mengenai pemuda dan fenomena cabe-cabean.

Cabe-Cabean, hal apa yang terpikir dalam benak anda setelah mendengar istilah tersebut ? cabe rawit? atau cabe imitasi?  ternyata bukan, cabe-cabean yang kini marak dikalangan remaja dan pelajar indonesia ini semakin membuat pedas hati melihatnya. Pedas dan bahkan mungkin bisa membuat kita menangis melihat fenomena cabe-cabean yang kini menjadi budaya baru di kalangan remaja dan pelajar indonesia. Lalu, sebenarnya apa sih cabe-cabean itu? mungkin untuk sahabat yang belum mengerti seperti apa cabe-cabean itu berikut saya gambarkan sedikit ciri-ciri cabe-cabean.
yang perlu sahabat ketahui adalah cabe-cabean ini istilah untuk cewe remaja / belia yang memiliki ciri-ciri seperti yang saya akan sebutkan, konon katanya jika untuk cowo belia disebut terong-terongan, nah klo u ntuk waria belia apa dong? terong dicabein? icon biggrin Cabe Cabean, Pedasnya Meruntuhkan Akhlak Pemudahehehe just kidding guys. berikut beberapa ciri cewe belia cabe-cabean :
1. Gigi di Pagar / Behel
Jika ditanya apakah giginya ada masalah sehingga harus dipagari? sebagian besar mengatakan, tidak dan lebih banyak karena tuntutan mode. Seandainya yang dipagari adalah hati dan hawa nafsunya, mungkin akan lebih baik, #aseek
2.  Make Up Super Tebel
Pemakaian make up secara berlebihan juga merupakan salah satu ciri cabe-cabean, dan biasanya make up super tebal ini dipakai ketika hendak hang out sesama cabe.  terkadang saya lucu melihatnya, karena jadi mirip kartun jaman dulu, chibi marukohan, nah skrang berarti namanya cabe marukochan kali ya, heheh
3. TuTi / TuPat
ciri ciri cabe-cabean yang lain adalah bisa dilihat ketika mereka naik motor, mereka biasa menerapkan prinsip TuTi atau TuPat, atau bonceng Tumpuk Tiga atau Tumpuk Empat, WOW ! bisa mengurangi efek kemacetan jakarta nih, hehehe.
4. Naik Motor Celana Pendek, Kaos Ketat
Jika melihat cewe remaja/belia seperti ini hampir bisa dipastikan dia salah satu spesies dari cabe-cabean. Kasihan sebenarnya melihat cabe-cabean ini pakaian adiknya dipakai . hmmmmmmm ada yang mau menyumbangkan pakaian layak pakai untuk mereka?
5. Hang Out di Fly Over
Hang out di fly over juga menjadi salah satu hoby dari cabe-cabean. Entah karena hemat atau kantong cekak, yang dilihat hanya mobil dan motor lewat, atau mungkin justru cabe-cabean itu sendiri ya yang menjadi objek wisata bagi pengguna jalan? bisa jadi bisa jadi. icon biggrin Cabe Cabean, Pedasnya Meruntuhkan Akhlak Pemuda
melihat ciri-ciri diatas, tentunya pedas rasanya hati kita. Belum usai bahasa kita dijajah bahasa alay, kini kehidupan dan akhlak remaja  indonesia yang terus dikikis oleh pedasnya cabe-cabean. Alangkah indahnya jika remaja dan pelajar putri di  indonesia ini berkaca kepada masa muda wanita – wanita sukses.
Fatimah Az-zahra binti Muhammad SAW, dialah putri Rasulullah SAW, wanita yang zuhud dalam kehidupan duniawi, bahkan ia sudah harus merasakan pahitnya jalan dakwah yang dilalui Rasulullah SAW. Ia pun ikut merasakan kesulitan ketika pemboikotan kaum muslimin yang dilakukan kaum kafir, dan ikut membersihkan darah yang mengucur dari kepala Rasulullah SAW saat perang Uhud. Hari-harinya disibukkan dengan birrul walidayn dan sangat jauh dari huru hara dunia.
Cabe-Cabean seharusnya menjadi pembuka mata kita para penggerak dan perubah generasi muda indonesia. Dengan ‘pedasnya’ yang dibawa, cabe-cabean menjadi salahsatu pekerjaan besar yang harus dibenahi oleh kita semua.  Pedasnya yang sampai meruntuhkan akhlak pemuda kita tentunya harus dicounter dengan berbagai macam kegiatan positif.
Akhlak dan leadership, 2 hal yang hampir hilang dalam jiwa pemuda kita harus kembali dibumikan. Akhlak yang kuat, dan jiwa kepemimpinan yang penuh integritas senantiasa harus ditanamkan dalam jiwa pemuda kita, sehingga fenomena cabe-cabean, bahasa alay, dan lain sebagainya tidak lagi mengotori budaya dan akhlak pemuda dan remaja kita khususnya pelajar.

Referensi :


Minggu, 19 Oktober 2014

Pengertian Individu, Keluarga dan Fungsi Keluarga

Pengertian Individu

Individu berasal dari kata yunani yaitu “individium” yang artinya “tidak terbagi”. Dalam ilmu sosial paham individu, menyangkut tabiat dengan kehidupan dan jiwa yang majemuk, memegang peranan dalam pergaulan hidup manusia. Individu merupakan kesatuan yang terbatas yaitu sebagai manusia perseorangan bukan sebagai manusia keseluruhan. Maka dapat disimpulkan bahwa individu adalah manusia yang memiliki peranan khas atau spesifik dalam kepribadiannya. Dan terdapat tiga aspek dalam individu yaitu aspek organik jasmaniah, aspek psikis rohaniah, dan aspek sosial. Dimana aspek aspek tersebut saling berhubungan. Apabila salah satu rusak maka akan merusak aspek lainnya. Apabila pola tingkah lakunya hampir identik dengan tingkah laku massa yang bersangkutan. Proses yang meningkatakan ciri-ciri individualitas pada seseorang sampai pada dirinya sendiri, disebut proses individualisasi atau aktualisasi diri. Dalam proses ini maka individu terbebani berbagai peranan yang berasal dari kondisi kebersamaan hidup, yang akhirnya muncul suatu kelompok yang akan menentukan kemantapan satu masayarakat. Individu dalam tingkah laku menurut pola pribadinya ada tiga kemungkinan: pertama menyimpang dari norma kolektif kehilangan individualitasnya. Kedua takluk terhadap kolektif, dan ketiga mempengaruhi masyarakat. (Hartomo, 2004: 64). Dengan demikian manusia merupakan mahluk individual tidak hanya dalam arti keseluruhan jiwa-raga, tetapi merupakan pribadi yang khas, menurut corak kepribadiannya dan kecakapannya.
Individu mempunyai ciri-ciri memiliki suatu pikiran dan diri. Dimana individu sanggup menetapkan kenyataan, interprestasi situasi, menetapkan aksi dari luar dan dalam dirinya. Dapat diartikan sebagai proses komunikasi individu dalam berinteraksi dan berhubungan. Individu tidak akan jelas identitasnya tanpa adanya suatu masyarakat yang menjadi latar individu tersebut ditandai dengan dimana individu tersebut berusaha menempatkan prilaku pada dirinya sesuai dengan norma dan kebudayaan lingkungan tersebut , seperti di indonesia individunya menjunjung tinggi prilaku sopan santun, dan beretika dalam bersosialisasi.
Individu selalu berada didalam kelompok, peranan kelompok tersebut adalah untuk mematangkan individu tersebut menjadi seorang pribadi. Dimana prosesnya tergantung terhadap kelompok dan lingkungan dapat menjadi faktor pendukung proses juga dapat menjadi penghambat proses menjadi suatu pribadi. Faktor pendukung dan faktor penghambat juga dapat berdasarkan individu itu sendiri.
Pengertian Keluarga
Keluarga merupakan bagian masyarakat yang fundamental bagi kehidupan pembentukan kepribadian anak manusia. Hal ini diungkapkan Syarief Muhidin (1981:52) yang mengemukakan bahwa : “Tidak ada satupun lembaga kemasyarakatan yang lebih efektif di dalam membentuk keperibadian anak selain keluarga. Keluarga tidak hanya membentuk anak secara fisik tetapi juga berpengaruh secara psikologis”.
Pendapat diatas dapat dimungkinkan karena keluarga merupakan lingkungan pertam dan utama bagi seorang anak manusia, di dalam keluarga seorang anak dibesarkan, mempelajari cara-cara pergaulan yang akan dikembangkannya kelak di lingkungan kehidupan sosial yang ada di luar keluarga. Dengan perkataan lain di dalam keluarga seorang anak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, baik kebutuhan fisik, psikis maupun sosial, sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Disamping itu pula seorang anak memperoleh pendidikan yang berkenaan dengan nilai-nilai maupun norma-norma yang ada dan berlaku di masyarakat ataupun dalam keluarganya sendiri serta cara-cara untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Sedangkan istilah keluarga itu sendiri memiliki beraneka ragam pngertian, salh satunya diungkapkan oleh Paul B Houton dan Chester L Hunt (1987:267) adalah sebagai berikut :
  • Suatu kelompok yang mempunyai nenek moyang yang sama
  • Suatu kelompok kekerabatan yang disatukan oleh darah atau perkawinan
  • Pasangan perkawinan dengan atau tanpa anak
  • Pasangan tanpa nikah yang mempunyai anak
  • Satu orang dengan beberapa anak.
Karena beragam dan luasnya pengertian tentang keluarga maka penting adanya pembatasan atau definisi keluarga. Diantaranya pendapat Burgess dan Lock yang membedakan keluarga dengan kelompok sosial lainnya adalah sebagai berikut
Keluarga adalah susunan orang-orang yang disatukan oleh ikatan-ikatan perkawinan, darah atau adopsi. Pertalian antara suami dan istri adalah perkawinan dan hubungan antara orang tua dan anak biasanya adalah darah atau kadangkala adopsi
Anggota-anggota keluarga ditandai dengan hidup bersama dibawah satu atap dan merupakan susunan satu rumah tangga, kadang-kadang seperti masa lampau rumah tangga adalah keluarga luas, meliputi didalamnya empat sampai lima generasi. Sekarang rumah tangga semakin kecil ukurannya, umunya dibatasi oleh suami istri anak atau dengan satu anak, dua atau tiga anak.
Keluarga merupakan kesatuan dari orang-orang yang berinteraksi dan berkomunikasi yang menciptakan peranan-peranan sosial bagi si suami dan istri, ayah dan ibu, putra dan putri, saudara laki-laki dan saudara perempuan. Peranan-peranan tersebut dibatasi oleh masyarakat, tetapi masing-masing keluarga diperkuat melalui sentimen-sentimen yang sebagian merupakan tradisi dan sebagian lagi emosional yang menghasilkan pengalaman.
Di Indonesia sendiri, keluarga telah diatur dalam berbagai peraturan atau undang-undang RI nomor 10 tahun 1992 mendefinisikan keluarga sebagai berikut : ”Keluarga merupakan wahana pertama seorang anak mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan bagi kelangsungan hidupnya”.
Sedangkan menurut SD. Vembrianto dalam “Sosiologi Pendidikan” mengintisarikan tentang pengertian keluarga ini yaitu :
Keluarga merupakan kelompok sosial kecil yang umumnya terdiri atas ayah, ibu dan anak
Hubungan sosial diantara anggota keluarga relatif tetap dan didasarkan atas ikatan darah, perkawinan dan atau adopsi
Hubungan antara anggota keluarga dijiwai oleh suasana efeksi dan rasa tanggung jawab
Fungsi keluarga ialah memelihara, merawat dan melindungi anak dalam rangka sosialisasinya agar mereka mampu mengendalikan diri dan berjiwa sosial.

Fungsi Keluarga
Pada dasarnya keluarga mempunyai fungsi-fungsi pokok yang sulit diubah dan digantikan oleh orang atau lembaga lain tetapi karena masyarakat sekarang ini telah mengalami perubahan, tidak menutup kemungkinan sebagian dari fungsi sosial keluarga tersebut mengalami perubahan. Dalam pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga tersebut akan banyak dipengaruhi oleh ikatan-ikatan dalam keluarga, hal ini sesuai dengan yang dikatakan MI Solaeman (1978:18) bahwa : “Pada dasarnya keluarga mempunyai fungsi-fungsi yang pokok, yaitu fungsi-fungsi yang tidak bisa dirubah dan digantikan oleh orang lain, sedangkan fungsi-fungsi lain atau fungsi-fungsi sosial relatif lebih mudah berubah atau mengalami perubahan”.
Mengenal fungsi keluarga Abu Ahmadi (1991:247) mengemukakan bahwa tugas atau fungsi keluarga bukan merupakan fungsi yang tunggal tetapi jamak. Secara sederhana dapat dikemukakan bahwa fungsi kelurga adalah :
Menstabilkan situasi keluarga dalam arti stabilisasi situasi ekonomi keluarga
Mendidik
Pemelihara fisik dan psikis keluarga, termasuk disini kehidupan religius.

Mengenai fungsi keluarga, khususnya tanggung jawab orang tua terhadap anaknya Singgih P Gunarsa (1991:54) mengemukakan sebagai berikut : “Tanggung jawab orang tua ialah memenuhi kebutuhan-kebutuhan si anak baik dari sudut organis-Psikologis, antara lain makanan, maupun kebutuhan-kebutuhan psikis seperti kebutuhan-kebutuhan akan perkembangan, kebutuhan intelektual melalui pendidikan, kebutuhan rasa dikasihi, dimengerti dan rasa aman melalui perawatan asuhan ucapan-ucapan dan perlakuan”.
Dari konsep tersebut diterangkan bahwa diantaranya peran orang tua ini sangat penting sekali terhadap pemenuhan kebutuhan intelektual bagi anak melalui pendidikan.Hal ini merupakan tanggung jawab orang tua harus diberikan kepada anaknya sehingga orang tua ditekankan harus mengerti akan fungsi keluarga dan tentunya pemahaman tentang pendidikan. Ini harus benar-benar dirasakan oleh orang tua sampai mampu berkeinginan untuk melanjutkan sekolah anaknya ke yang lebih tinggi sehingga wawasan dan pemahaman anak bisa lebih luas.
Selain dari pendapat diatas mengenai fungsi keluarga ini menurut MI Soelaeman mengatakan sebagai berikut :
Fungsi Edukatif – Sebagai suatu unsur dari tingkat pusat pendidikan, merupakan lingkungan pendidikan yang pertama bagi anak. Dalam kedudukn ini, adalah suatu kewajaran apabila kehidupan keluarga sehari-hari, pada saar-saat tertentu terjadi situasi pendidikan yang dihayati oleh anak dan diarahkan pada perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
Fungsi Sosialisasi – Melalui interaksi dalam keluarg anak mempelajari pola-pola tingkahlaku, sikap, keyakinan, cita-cita serta nilai-nilai dalam masyarakat dalam rangka pengembangan kepribadiannya. Dalam rangka melaksanakan fungsi sosialisasi ini, keluarga mempunyai kedudukan sebagai penghubung antara anak dengan kehidupan sosial dan norma-norma sosial yang meliputi penerangan, penyaringan dan penafsiran ke dalam bahasa yang dimengerti oleh anak.

Fungsi protektif – Fungsi ini lebih menitik beratkan dan menekankan kepada rasa aman dan terlindungi apabila anak merasa aman dan terlindungi barulah anak dapat bebas melakukan penjajagan terhadap lingkungan.
Fungsi Afeksional – Yang dimaksud dengan fungsi afeksi adaslah adanya hubungan sosial yang penuh dengan kemesraan dan afeksi. Anak biasanya mempunyai kepekaan tersendiri akan iklim-iklim emosional yang terdapat dalam keluarga kehangatan yang terpenting bagi perkembangan keperibadian anak
Fungsi Religius – Keluarga berkewajiban mmperkenalkan dan mengajak anak serta keluarga pada kehidupan beragama. Sehingga melalui pengenalan ini diharapkan keluarga dapat mendidik anak serta anggotanya menjadi manusia yang beragama sesuai dengan keyakinan keluarga tersebut.
Fungsi Ekonomis – Fungsi keluarga ini meliputi pencarian nafkah, perencanaan dan pembelanjaannya. Pelaksanaanya dilakukan oleh dan untuk semua anggota keluarga, sehingga akan menambah saling mengerti, solidaritas dan tanggung jawab bersama.
Fungsi Rekreatif – Suasana keluarga yang tentram dan damai diperlukan guna mengembalikan tenaga yang telah dikeluarkan dalam kehidupan sehari-hari
Fungsi Biologis – Fungsi ini berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan biologis keluarga, diantaranya kebutuhan seksuil. Kebutuhan ini berhubungan dengan pengembangan keturunan atau keinginan untuk mendapatkan keturunan. Selain itu juga yang termasuk dalam fungsi biologis ini yaitu perlindungan fisik seperti kesehatan jasmani dan kebutuhan jasmani yaitu dengan terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan dan papan akan mempengaruhi kepada jasmani setiap anggota keluarga.
Dari uraian mengenai fungsi-fungsi keluaga diatas, maka jelaslah bahwa fungsi-fungsi ini semuanya memegang peranan penting dalam keluarga, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan individu yang menjadi anggota keluarganya. Untuk itu dalam penerapannya hendaknya fungsi-fungsi tersebut berjalan secara seimbang, karena akan membantu keharmonisan serta kehidupan keluarga. Pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga ini disertai dengan suasana yang baik serta fasilitas yang memadai.
Referensi :

Minggu, 12 Oktober 2014

Pengertian Penduduk dengan Kebudayaan, Masalah serta Solusinya

Penduduk
Penduduk atau warga suatu negara atau daerah bisa didefinisikan menjadi dua
Orang yang bermukim atau bertempat tinggal di daerah tertentu
Orang yang mempunyai bukti-bukti kuat atas kependudukannya sebagai penduduk dinegara tersebut akan tetapi ia malah memilih bertempat tinggal diwilayah tertentu di Negara tersebut.

Masalah Kependudukan

Masalah penduduk dan kependudukan dapat kita soroti dengan pendekatan sistem. Sistem adalah suatu totalitas bagian (satuan komponen) yang terdiri dari berbagai sub komponen yang saling berkaitan, saling tergantung, berinteraksi, saling menentukan sehingga membentuk suatu kesatuan yang terpadu dan harus diperhitungkan dalam setiap mengambil keputusan.
Kebijaksanaan kependudukan nasional pada hakikatnya bertujuan mempengaruhi sistem demografi baik secara langsung maupun tidak langsung melalui sistem-sistem yang lain dalam makrosistem kependudukan, untuk membawa penduduk kepada suatu keadaan di mana ciri dan perilaku demografinya menguntungkan bagi pembangunan nasional yang pada hakikatnya merupakan usaha untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk itu sendiri.

Sebagai fenomena yang sudah menjadi masalah dapat disebut antara lain:
1) tekanan-tekanan pada usaha peningkatan ekonomi karena jumlah penduduk yang besar dan laju pertumbuhan penduduk yang cepat;
2) tekanan-tekanan pada usaha pembangunan, pendidikan dan tenaga kerja karena komposisi penduduk yang muda dan pertambahan yang cepat dari golongan penduduk usia sekolah dan tenaga kerja; dan
3)masalah-masalah pada usaha keamanan dan pembangunan daerah karena tidak terpenuhinya kesempatan kerja dan kepadatan penduduk yang tinggi yang tidak merata.

Kebijaksanaan dalam bidang-bidang pembangunan yang lain pada hakikatnya tertujuan pada peningkatan kualitas hidup melalui sistem-sistem diluar sistem demografi tersebut dan sebagian dari kebijaksanaan tersebut selain tertuju untuk mengatasi masalah juga dapat secara langsung mempengaruhi sistem demografi.
1.      Kebijaksanaan Kependudukan
Kebijaksanaan itu meliputi penyediaan lapangan kerja untuk penduduk yang menghendakinya, memberikan kesempatan pendidikan, meningkatkan kesehatan serta usaha-usaha menambah kesejahteraan penduduk lainnya. Selanjutnya secara terperinci mengenai kebijaksanaan kependudukan di Indonesia pada masa lalu dinyatakan sebagai berikut:
a). Kebijaksanaan kependudukan yang menyeluruh dan terpadu perlu dilanjutkan dan makin ditingkatkan serta diarahkan untuk menunjang peningkatan taraf hidup,kesejahteraan dan kecerdasan bangsa serta tujuan-tujuan pembangunan lainnya.
b). Pelaksanaan kebijaksanaan dan program-program kependudukan yang meliputi antara lain pengendalian kelahiran, penurunan tingkat kematian anak-anak, perpanjangan harapan hidup, penyebaran penduduk dan tenaga kerja yang lebih serasi dan seimbang.
c). Program keluarga berencana berperan ganda, ialah untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mewujutkan keluarga kecil sejahtera serta mengendalikan pertumbuhan penduduk.
d). Dalam rangka pengendalian pertumbuhan penduduk perlu diambil langkah-langkah untuk mempercepat turunnya tingkat kelahiran.
e). Jumlah peserta keluarga berencana perlu makin ditingkatkan atas dasar kesadaran dan secara sukarela dengan mempertimbangkan nilai-nilai agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
f). Penanganan dan pendidikan mengenai masalah kependudukan bagi seluruh lapisan masyarakat terutama generasi muda, perlu ditingkatkan dan lebih diperluas.
2. Pertambahan Penduduk dan Lingkungan Pemukiman
Dari segi lingkungan, masalah pemukiman adalah masalah penduduk. Ketika manusia berjumlah terbatas dan hidup serba sahaja, maka cara hidup dan bermukin manusia diserasikan dengan lingkungan alam. Waktu itu kita tidak mengenal masalah lingkungan hidup. Tapi manusia bertambah banyak dan akal pikirannya berkembang, sehingga cara hidup dan bermukim tidak lagi diserasikan dengan lingkungan alam. Malah sebaliknya lingkungan yang diubah untuk dicocokkan dengan cara hidup dan bermukim manusia. Ruang dirombak untuk membangun berbagai bentuk perumahan dengan fasilitas pelayanan hidup yang bermacam-macam, seperti pelayanan kesehatan, pendidikan, hiburan atau pasar yang harus ditunjang oleh prasarana jalan, angkutan, listrik, air minum dan sebagainya.
Sebagai suatu rangkaian, jumlah penduduk Indonesia terus bertambah, permukimannya terus berkembang, dan pengaruhnya kepada lingkungan hidup makin besar pula. Peledakan penduduk menyebabkan pula membesarnya lagi urbanisasi, sehingga tidak ada satu kotapun yang mampu menampung arus penghuni baru yang datang dari daerah pedesaan. Karena kota tidak mampu menampung arus yang datang akibatnya pengangguran di kota makin lama makin membengkak. Daerah pemukiman bertambah luas, sampah berserakan dimana-mana, persediaan air yang sehat tidak dapat memenuhi kebutuhan dan akibatnya wabah penyakit menyerang masyarakat.
Proyek seperti perumahan dibangun, pasar diperbaiki, pedagang kakilima dilokalisasi, jalan-jalan diperbesar dan diperbaiki, akan tetapi bersamaan dengan pembangunan tersebut timbul masalah lain, masalah harga tanah yang terus-menerus meningkat yang menimbulkan spekulasi dan masalah penyediaan perumahan bagi golongan yang kurang mampu.
3.      Pertumbuhan Penduduk dan Tingkat Pendidikan
Di negara-negara yang anggaran pendidikannya paling rendah, biasanya menunjukkan angka kelahiran yang tinggi. Tidak hanya persediaan dana yang kurang, tetapi komposisi usia secara piramida pada penduduk yang berkembang dengan cepat juga berakibat bahwa rasio antara guru yang terlatih dan jumlah anak usia sekolah akan terus berkurang. Akibatnya, banyak negara yang sebelumnya mengarahkan perhatian terhadap pendidikan universitas, secara diam-diam mengalihkan sasarannya.
Helen Callaway, seorang ahli antropologi Amerika yang mempelajari masayakat buta huruf, menyimpulkan bahwa perkembangan ekonomi dan perluasan pendidikan dasar telah memperluas jurang pemisah antara pria dan wanita. Hampir di mana-mana pria diberikan prioritas untuk pendidikan umum dan latihan-latihan teknis. Mereka adalah orang-orang yang mampu menghadapi tantangan-tantangan dalam dunia. Sebaliknya pengetahuan dunia ditekan secara tajam pada tingkat yang terbawah.
Pertambahan penduduk yang cepat, lepas daripada pengaruhnya terhadap kualitas dan kuantitas pendidikan, cenderung untuk menghambat perimbangan pendidikan. Kekurangan fasilitas pendidikan menghambat program persamaan/perimbangan antara laki-laki dan wanita, pedesaan dan kota, dan antara bagian masyarakat yang kaya dan miskin.
Pengaruh daripada dinamika penduduk terhadap pendidikan juga dirasakan pada keluarga. Penelitian yang dilakukan pada beberapa negara dengan latar belakang budaya yang berlainan menunjukkan bahwa jika digabungkan dengan kemiskinan, keluarga dengan jumlah anak banyak dan jarak kehamilan yang dekat, menghambat perkembangan berfikir anak-anak, berbicara dan kemauannya, di samping kesehatan dan perkembangan fisiknya. Kesulitan orang tua dalam membiayai anak-anak yang banyak, lebih mempersulit masalah ini.
Pertambahan penduduk yang cepat menghambat program-program perluasan pendidikan, juga mengarah pada aptisme di dunia yang kesulitan untuk mengatasinya.
Tingkat pendidikan adalah sangat menentukan sebagai alat menyampaikan informasi kepada manusia tentang perlunya perubahan dan untuk meransang penerimaan gagasan-gagasan baru.
4.       Masalah Kemiskinan
Salah satu wabah penyakit yang menyerang negara-negara sedang berkembang dewasa ini adalah kemiskinan berserta saudara kembarnya keterbelakangan. Karena dalam kenyataannya kedua hal itu melemahkan fisik dan mental manusia yang tentunya mempunyai dampak negatif terhadap lingkungan.
Pembangunan di negara-negara sedang berkembang bukan hanya meningkatan pendapatan nasional, tidak lagi hanya menambah produksi barang-barang dan jasa-jasa, tetapi pembangunan mengandung pula unsur membangun manusia jasmaniah, rohaniah dan mengubah nasib manusia untuk keluar dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Untuk mengatasi ini pemerintah Indonesia telah mengambil beberapa upaya diantaranya; BIMAS, BUUD/KUD, Kredit Candak Kulak, SD INPRES, dimasa orde baru dicanangkan 8 jalur pemerataan, dan terakhir ini dicanangkan Inpres Desa Tertinggal (IDT). Pada masa reformasi dikembangkan berbagai jenis kebijakan pembangunan, antara lain: kredit koperasi primer untuk anggota (KKPA) untuk petani di pedesaan, usaha ekonomi desa (UED), kredit usaha rakyat (KUR). Begitu juga untuk memacu kualitas sumberdaya manusia pemerintah mewajibkan setiap penduduk Indonesia minimal pendidikannya setingkat dengan sekolah lanjutan pertama (SLTP) atau dikenal dengan program wajib belajar sembilan tahun (Wajar 9 tahun), bahkan beberapa daerah di Indonesia telah mengembangkan wajib belajar 12 tahun.
5.      Sebab-sebab Kemiskinan
Sebab-sebab kemiskinan yang pokok bersumber dari empat hal, yaitu mentalitas si miskin itu sendiri, minimnya keterampilan yang dimiliki, ketidakmampuannya untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang disediakan, dan peningkatan jumlah penduduk yang berlebihan. Sesungguhnya keempat hal ini dalam kenyataannya kait mengait.
Apabila orang telah terperangkap dalam jurang kemiskinan, dan tidak lagi melihat untuk keluar dari jurang itu, maka ia cenderung mengambil sikap "nerimo" dalam bahasa Jawanya atau accommodation. Sikap ini bukanlah sikap yang seluruhnya irasional.
Dari pandangan lain kemiskinan juga identik dengan keterbelakangan. Hal ini akan menyulitkan atau menjadi penghambat dalam pembangunan ekonomi. Keterkaitan ini dapat dilihat pada Gambar 10. Masyarakat yang berpenghasilan renadah kemampuan menabung dan pembentukan investasi baik dari sisi modal maupuan keterampilam sangat kecil. Kondisi ini berdampak terhadap daya saing meraih peluang kerja. Dari sisi lain masyarakat yang berpenghasilan rendah, lebih banyak memanfaatkan tenaganya disbanding pemanfaatan pemikirannya, sehingga berdampak kepada tingkat kesuburannya yang tinggi. Kondisi tersebut akan mempertinggi tingkat reproduksi sehingga tingkat kelahiran juga tinggi dilingkungannya.

Solusi Kependudukan

1)     Menekan laju pertumbuhan penduduk.
2)     Merangsang kemauan berwiraswasta.
3)     Menggiatkan usaha kerajinan rumah tangga/industrialisasi.
4)     Memperluas kesempatan kerja.
5)     Meningkatkan GNP dengan cara meningkatkan barang dan jasa

Kebudayaan

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” d Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina. Citra budaya yang brsifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.

 

Masalah Budaya di Indonesia

       Sebagai negara dengan suku-suku yang beragam, Indonesia memiliki kebudayaan yang beragam di setiap daerahnya. Kebudayaan-kebudayaan tersebut selain menimbulkan kekayaan yang cantik, juga memiliki permasalahan masing-masing. Mulai dari perebutan hak paten kebudayaan sampai lunturnya nilai-nilai kebudayaan tersebut. Masalah budaya Indonesia tersebut bila tidak segera ditangani maka akan berakibat pada punahnya budaya Indonesia sehingga dikhawatirkan akan terjadi krisis budaya di jaman anak cucu kita kelak.      
      Lantas, bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut? Tentunya kita harus tahu terlebih dahulu penyebab permasalahan tersebut. Berdasarkan link yang saya baca dan menginspirasi saya untuk membahas topik ini- ada lima hal yang menjadi penyebab permasalahan budaya di Indonesia. Kelima hal itu adalah.. 
1.    Kurangnya Regenerasi
Budaya adalah sesuatu yang diwariskan turun temurun. Jadi upaya pelestariannya membutuhkan regenerasi yang berkelanjutan. Sayangnya, hanya sedikit generasi muda kita yang mau mempelajari dan mengenal kebudayaan bangsa sendiri. 
2.    Kurangnya Rasa Memiliki
Perasaan memiliki akan membuat kita menjaga apa yang kita miliki dan menghargainya. Sayangnya, perasaan memiliki bangsa Indonesia hanya timbul ketika ada bangsa lain yang berupaya mematenkan kebudayaan kita. Kemana saja kita sebelumnya? Bila bangsa lain bisa mematenkan kebudayaannya, mengapa kita harus menunggu kebudayaan kita direbut dulu baru mematenkannya? Kurangnya rasa memiliki membuat kita menyepelekan budaya yang telah kita miliki 
3.    Kurangnya Penghargaan dari Pemerintah
Di negara-negara maju, misalnya Jepang dan Korea, kebudayaan sangat diperhatikan. Hal ini dapat kita lihat dari film, manga, dan anime yang banyak ditayangkan di layar kaca. Beragam festival dan perayaan-perayaan diadakan untuk mempertahankan kebudayaan negara mereka. Bahkan rumah tradisional mereka pun banyak ditampilkan dalam film-film mereka yang di’ekspor’ demi menonjolkan kebudayaan negara mereka. Lalu, bagaimana dengan kita? Harus diakui bahwa pemerintah kita kurang memperhatikan budaya Indonesia. Hal ini terlihat dari minimnya anggaran yang disediakan pemerintah untuk program-program budaya Indonesia 
4.    Konsep Pelestarian Budaya yang Kurang Tepat
Melestarikan budaya tidak berarti hanya melakukan sesuatu demi tetap adanya budaya tersebut, tetapi lebih dari itu. Perlu adanya pengembangan-pengembangan kebudayaan tanpa menghilangkan inti dari budaya itu sendiri. Misalnya demi melestarikan makanan tradisional Roti Buaya, dibuatlah inovasi dengan mengisi roti buaya tersebut dengan berbagai rasa, ukuran atau dijadikan oleh-oleh 
5.    Masyarakat yang terlalu mudah menyerap budaya luar
Sikap masyarakat yang terlalu mudah ikut-ikutan dengan budaya luar dan menganggap sepele kebudayaan sendiri menimbulkan kurangnya rasa memiliki dan lunturnya nilai-nilai kebudayaan bangsa. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa hal yang keren adalah hal-hal yang berasal dari luar negeri sehingga budaya luar dengan mudah menggeser nilai kebudayaan domestik.

Solusi Mengatasi Masalah Kebudayaan

      1. Dengan kemajuan teknologi seharusnya ada batasan-batasan agar tidak terjadi penyelewengan  hal-hal yang tidak di inginkan dan dapat merusak kebudayaan yang ada
2. masyarakat harus lebih bijaksana dalam menghadapi masalah
3. Dengan adanya perbedaan kebudayaan kita itu seharusnya saling menghormati dan menghargai perbedaan tersebut.
4. Bertingkahlaku yang baik antar manusia itu yang dapat menjadikan lingkungan lebih nyaman dan tentram.


  

Referensi :

Minggu, 05 Oktober 2014

Hubungan Ilmu Sosial Dasar dengan Sistem Informasi

Nama : Rachma Ramadhanti
NPM : 18114675
Kelas : 1KA39

Hey guys disini aku mau jelasin tentang hubungan ilmu sosial dasar dengan sistem informasi guys, sebelumnya kita lihat yuk apa sih sistem informasi dan ilmu dasar sosial itu ? 

Konsep dasar sistem dan informasi

Sistem

sekelompok unsur yang erat hubungannya satu dengan yang lain, yang berfungsi bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu.

Informasi

Secara umum informasi dapat didefinisikan sebagai hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian yang nyata yang di gunakan untuk pengambilan keputusan. Informasi merupakan data yang telah di klasifikasikan atau diolah atau di interpretasi untuk di gunakan dalam proses pengambilan keputusan.

Sistem informasi

Sistem informasi adalah gabungan yang terorganisasi dari manusia, perangkat lunak, perangkat kelas, jaringan komunikasi dan sumber data dalam mengumpulkan, mengubah, dan menyebarkan informasi dalam organisasi.
Sistem informasi dapat di definisikan sebuah sistem dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengelolahan transaksi harian yang mendukung fungsi operasi organisasi yang bersifat manajerial dalam kegiatan startegi dari organisasi untuk menyediakan kepada pihak luar tertentu dengan informasi yang di perlukan untuk mengambil keputusan.

Ilmu Sosial Dasar

Ilmu sosial dasar adalah pengetahuan yang menelaah masalah-masalah sosial, khususnya yang diwujudkan oleh masyarakat Indonesia dengan menggunakan pengertian-pengertian (fakta,konsep,teori) yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan keahlian dalam lapangan ilmu-ilmu sosial seperti : sejarah, ekonomi, geografi, sosiologi, antropologi, psikologi sosial.

Tujuan Ilmu Sosial Dasar

Tujuan umum diselenggarakannya mata kuliah Ilmu Sosial Dasar ialah pembentukan dan pengembangan kepribadian serta perluasan wawasan perhatian, pengetahuan, dan pemikiran mengenai berbagai gejala yang ada dan timbul dalam lingkungannya, khususnya gejala berkenaan dengan masyarakat dengan orang lain, agar daya tanggap, presepsi, dan penalaran berkenaan dengan lingkungan social dapat dipertajam.

Hubungan Ilmu Sosial Dasar dengan Sistem Informasi

Sistem informasi dan ilmu budaya dasar mempunyai keterkaitan yang erat karena keduannya saling melengkapi satu sama lain. Sebuah system informasi yang dapat memberikan informasi berupa berbagai pengetahuan, baik lisan maupun tulisan dan ilmu budaya dasar yang mengajarkan konsep dasar kemanusiaan .
Kemudahan mengakses informasi saat ini baiknya dapat digunakan sesuai dengan kaidahnya, agar informasi yang telah di sajikan dapat menghasilkan sebuah manfaat . informasi dan komunikasi yang baik akan menghasilkan sebuah sinkronisasi budaya yang baik. Yang terpenting adalah ilmu budaya dasar memberikan kita sebuah pedoman dalam mengembangkan kepribadian dan wawasan pemikiran, terutama berkaitan dengan masalah kemanusiaan dan kebudayaan agar daya tanggap, persepsi, dan penalaran seseorang terhadap lingkungan dan ilmu pengetahuan serta teknologi semakin peka.
Sistem informasi memberikan kemudahan melalui media internet tersebut, kemajuan ini akan menjadi sorotan utama saat ini. Kemajuan dibidang ini bisa mempengaruhi kebudayaan disetiap Negara dan menembus batas-batas budaya yang telah diterapkan dinegara masing-masing. Adanya hubungan timbal balik antara system informasi dengan Ilmu budaya dasar. Contohnya ilmu budaya dasar mempelajari tentang budaya, budaya tersebut dapat disebarluaskan dan diperkenalkan oleh teknologi terkini yang kita sebut dengan media internet.

Referensi