Penduduk
Penduduk atau warga suatu negara atau
daerah bisa didefinisikan menjadi dua
Orang yang bermukim atau bertempat tinggal di daerah tertentu
Orang yang mempunyai bukti-bukti kuat atas kependudukannya sebagai penduduk dinegara tersebut akan tetapi ia malah memilih bertempat tinggal diwilayah tertentu di Negara tersebut.
Orang yang bermukim atau bertempat tinggal di daerah tertentu
Orang yang mempunyai bukti-bukti kuat atas kependudukannya sebagai penduduk dinegara tersebut akan tetapi ia malah memilih bertempat tinggal diwilayah tertentu di Negara tersebut.
Masalah Kependudukan
Masalah penduduk dan kependudukan dapat kita soroti
dengan pendekatan sistem. Sistem adalah suatu totalitas bagian (satuan
komponen) yang terdiri dari berbagai sub komponen yang saling berkaitan, saling
tergantung, berinteraksi, saling menentukan sehingga membentuk suatu kesatuan
yang terpadu dan harus diperhitungkan dalam setiap mengambil keputusan.
Kebijaksanaan kependudukan nasional pada hakikatnya
bertujuan mempengaruhi sistem demografi baik secara langsung maupun tidak
langsung melalui sistem-sistem yang lain dalam makrosistem kependudukan, untuk
membawa penduduk kepada suatu keadaan di mana ciri dan perilaku demografinya
menguntungkan bagi pembangunan nasional yang pada hakikatnya merupakan usaha
untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk itu sendiri.
Sebagai fenomena yang sudah menjadi masalah dapat disebut
antara lain:
1) tekanan-tekanan pada usaha peningkatan ekonomi karena
jumlah penduduk yang besar dan laju pertumbuhan penduduk yang cepat;
2) tekanan-tekanan pada usaha pembangunan, pendidikan dan
tenaga kerja karena komposisi penduduk yang muda dan pertambahan yang cepat
dari golongan penduduk usia sekolah dan tenaga kerja; dan
3)masalah-masalah pada usaha keamanan dan pembangunan
daerah karena tidak terpenuhinya kesempatan kerja dan kepadatan penduduk yang
tinggi yang tidak merata.
Kebijaksanaan dalam bidang-bidang pembangunan yang lain
pada hakikatnya tertujuan pada peningkatan kualitas hidup melalui sistem-sistem
diluar sistem demografi tersebut dan sebagian dari kebijaksanaan tersebut
selain tertuju untuk mengatasi masalah juga dapat secara langsung mempengaruhi
sistem demografi.
1. Kebijaksanaan Kependudukan
Kebijaksanaan itu meliputi penyediaan lapangan kerja
untuk penduduk yang menghendakinya, memberikan kesempatan pendidikan,
meningkatkan kesehatan serta usaha-usaha menambah kesejahteraan penduduk
lainnya. Selanjutnya secara terperinci mengenai kebijaksanaan kependudukan di Indonesia pada masa
lalu dinyatakan sebagai berikut:
a). Kebijaksanaan kependudukan yang menyeluruh dan terpadu perlu dilanjutkan
dan makin ditingkatkan serta diarahkan untuk menunjang peningkatan taraf hidup,kesejahteraan
dan kecerdasan bangsa serta tujuan-tujuan pembangunan lainnya.
b). Pelaksanaan kebijaksanaan dan program-program kependudukan yang meliputi antara
lain pengendalian kelahiran, penurunan tingkat kematian anak-anak, perpanjangan
harapan hidup, penyebaran penduduk dan tenaga kerja yang lebih serasi dan
seimbang.
c). Program keluarga berencana berperan ganda, ialah untuk
meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mewujutkan keluarga kecil
sejahtera serta mengendalikan pertumbuhan penduduk.
d). Dalam rangka pengendalian pertumbuhan penduduk perlu diambil
langkah-langkah untuk mempercepat turunnya tingkat kelahiran.
e). Jumlah peserta keluarga berencana perlu makin ditingkatkan atas
dasar kesadaran dan secara sukarela dengan mempertimbangkan nilai-nilai agama
dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
f). Penanganan dan pendidikan mengenai masalah kependudukan bagi
seluruh lapisan masyarakat terutama generasi muda, perlu ditingkatkan dan lebih
diperluas.
2. Pertambahan
Penduduk dan Lingkungan Pemukiman
Dari segi lingkungan, masalah pemukiman adalah masalah
penduduk. Ketika manusia berjumlah terbatas dan hidup serba sahaja, maka cara
hidup dan bermukin manusia diserasikan dengan lingkungan alam. Waktu itu kita
tidak mengenal masalah lingkungan hidup. Tapi manusia bertambah banyak dan akal
pikirannya berkembang, sehingga cara hidup dan bermukim tidak lagi diserasikan
dengan lingkungan alam. Malah sebaliknya lingkungan yang diubah untuk
dicocokkan dengan cara hidup dan bermukim manusia. Ruang dirombak untuk
membangun berbagai bentuk perumahan dengan fasilitas pelayanan hidup yang
bermacam-macam, seperti pelayanan kesehatan, pendidikan, hiburan atau pasar
yang harus ditunjang oleh prasarana jalan, angkutan, listrik, air minum dan
sebagainya.
Sebagai suatu rangkaian, jumlah penduduk Indonesia terus
bertambah, permukimannya terus berkembang, dan pengaruhnya kepada lingkungan
hidup makin besar pula. Peledakan penduduk menyebabkan pula membesarnya
lagi urbanisasi, sehingga tidak ada satu kotapun yang mampu menampung arus
penghuni baru yang datang dari daerah pedesaan. Karena kota tidak mampu
menampung arus yang datang akibatnya pengangguran di kota makin lama makin
membengkak. Daerah pemukiman bertambah luas, sampah berserakan dimana-mana,
persediaan air yang sehat tidak dapat memenuhi kebutuhan dan akibatnya wabah
penyakit menyerang masyarakat.
Proyek seperti perumahan dibangun, pasar diperbaiki,
pedagang kakilima dilokalisasi, jalan-jalan diperbesar dan diperbaiki, akan
tetapi bersamaan dengan pembangunan tersebut timbul masalah lain, masalah harga
tanah yang terus-menerus meningkat yang menimbulkan spekulasi dan masalah
penyediaan perumahan bagi golongan yang kurang mampu.
3. Pertumbuhan Penduduk dan Tingkat
Pendidikan
Di negara-negara yang anggaran pendidikannya paling
rendah, biasanya menunjukkan angka kelahiran yang tinggi. Tidak hanya
persediaan dana yang kurang, tetapi komposisi usia secara piramida pada
penduduk yang berkembang dengan cepat juga berakibat bahwa rasio antara guru
yang terlatih dan jumlah anak usia sekolah akan terus berkurang. Akibatnya,
banyak negara yang sebelumnya mengarahkan perhatian terhadap pendidikan
universitas, secara diam-diam mengalihkan sasarannya.
Helen Callaway, seorang ahli antropologi Amerika yang
mempelajari masayakat buta huruf, menyimpulkan bahwa perkembangan ekonomi dan
perluasan pendidikan dasar telah memperluas jurang pemisah antara pria dan
wanita. Hampir di mana-mana pria diberikan prioritas untuk pendidikan umum dan
latihan-latihan teknis. Mereka adalah orang-orang yang mampu menghadapi
tantangan-tantangan dalam dunia. Sebaliknya pengetahuan dunia ditekan secara
tajam pada tingkat yang terbawah.
Pertambahan penduduk yang cepat, lepas daripada
pengaruhnya terhadap kualitas dan kuantitas pendidikan, cenderung untuk
menghambat perimbangan pendidikan. Kekurangan fasilitas pendidikan menghambat
program persamaan/perimbangan antara laki-laki dan wanita, pedesaan dan kota,
dan antara bagian masyarakat yang kaya dan miskin.
Pengaruh daripada dinamika penduduk terhadap pendidikan
juga dirasakan pada keluarga. Penelitian yang dilakukan pada beberapa negara
dengan latar belakang budaya yang berlainan menunjukkan bahwa jika digabungkan
dengan kemiskinan, keluarga dengan jumlah anak banyak dan jarak kehamilan yang
dekat, menghambat perkembangan berfikir anak-anak, berbicara dan kemauannya, di
samping kesehatan dan perkembangan fisiknya. Kesulitan orang tua dalam
membiayai anak-anak yang banyak, lebih mempersulit masalah ini.
Pertambahan penduduk yang cepat menghambat
program-program perluasan pendidikan, juga mengarah pada aptisme di dunia yang
kesulitan untuk mengatasinya.
Tingkat pendidikan adalah sangat menentukan sebagai alat menyampaikan
informasi kepada manusia tentang perlunya perubahan dan untuk meransang
penerimaan gagasan-gagasan baru.
4. Masalah Kemiskinan
Salah satu wabah penyakit yang menyerang negara-negara
sedang berkembang dewasa ini adalah kemiskinan berserta saudara kembarnya
keterbelakangan. Karena dalam kenyataannya kedua hal itu melemahkan fisik dan
mental manusia yang tentunya mempunyai dampak negatif terhadap lingkungan.
Pembangunan di negara-negara sedang berkembang bukan
hanya meningkatan pendapatan nasional, tidak lagi hanya menambah produksi
barang-barang dan jasa-jasa, tetapi pembangunan mengandung pula unsur membangun
manusia jasmaniah, rohaniah dan mengubah nasib manusia untuk keluar dari
perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Untuk mengatasi ini pemerintah
Indonesia telah mengambil beberapa upaya diantaranya; BIMAS, BUUD/KUD, Kredit
Candak Kulak, SD INPRES, dimasa orde
baru dicanangkan 8 jalur pemerataan, dan terakhir ini dicanangkan Inpres Desa
Tertinggal (IDT). Pada masa reformasi dikembangkan berbagai jenis kebijakan
pembangunan, antara lain: kredit koperasi primer untuk anggota (KKPA) untuk
petani di pedesaan, usaha ekonomi desa (UED), kredit usaha rakyat (KUR). Begitu juga untuk memacu kualitas sumberdaya manusia pemerintah mewajibkan
setiap penduduk Indonesia minimal pendidikannya setingkat dengan sekolah
lanjutan pertama (SLTP) atau dikenal dengan program wajib belajar sembilan
tahun (Wajar 9 tahun), bahkan beberapa daerah di Indonesia telah mengembangkan
wajib belajar 12 tahun.
5. Sebab-sebab Kemiskinan
Sebab-sebab kemiskinan yang pokok bersumber dari empat
hal, yaitu mentalitas si miskin itu sendiri, minimnya keterampilan yang
dimiliki, ketidakmampuannya untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang
disediakan, dan peningkatan jumlah penduduk yang berlebihan. Sesungguhnya
keempat hal ini dalam kenyataannya kait mengait.
Apabila orang telah terperangkap dalam jurang kemiskinan,
dan tidak lagi melihat untuk keluar dari jurang itu, maka ia cenderung
mengambil sikap "nerimo" dalam bahasa Jawanya atau accommodation. Sikap ini bukanlah sikap yang
seluruhnya irasional.
Dari pandangan lain kemiskinan juga identik dengan
keterbelakangan. Hal ini akan menyulitkan atau menjadi penghambat dalam
pembangunan ekonomi. Keterkaitan ini dapat dilihat pada Gambar 10. Masyarakat yang
berpenghasilan renadah kemampuan menabung dan pembentukan investasi baik dari
sisi modal maupuan keterampilam sangat kecil. Kondisi ini berdampak terhadap
daya saing meraih peluang kerja. Dari sisi lain masyarakat yang berpenghasilan
rendah, lebih banyak memanfaatkan tenaganya disbanding pemanfaatan
pemikirannya, sehingga berdampak kepada tingkat kesuburannya yang tinggi.
Kondisi tersebut akan mempertinggi tingkat reproduksi sehingga tingkat
kelahiran juga tinggi dilingkungannya.
Solusi Kependudukan
1) Menekan laju
pertumbuhan penduduk.
2) Merangsang
kemauan berwiraswasta.
3) Menggiatkan
usaha kerajinan rumah tangga/industrialisasi.
4) Memperluas
kesempatan kerja.
5) Meningkatkan
GNP dengan cara meningkatkan barang dan jasa
Kebudayaan
Budaya adalah suatu cara
hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan
diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang
rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas,
pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan
bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung
menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha
berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan
perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.Budaya adalah
suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas.
Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur
sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.Beberapa
alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari
budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit
nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan
atas keistimewaannya sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk
berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika,
“keselarasan individu dengan alam” d Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina.
Citra budaya yang brsifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan
pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis
yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh
rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.Dengan demikian, budayalah
yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas
seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan
masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa
segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang
dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Masalah
Budaya di Indonesia
Sebagai negara dengan suku-suku yang beragam, Indonesia memiliki
kebudayaan yang beragam di setiap daerahnya. Kebudayaan-kebudayaan tersebut
selain menimbulkan kekayaan yang cantik, juga memiliki permasalahan
masing-masing. Mulai dari perebutan hak paten kebudayaan sampai lunturnya
nilai-nilai kebudayaan tersebut. Masalah budaya Indonesia
tersebut bila tidak segera ditangani maka akan berakibat pada punahnya budaya
Indonesia sehingga dikhawatirkan akan terjadi krisis budaya di jaman anak cucu
kita kelak.
Lantas, bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut? Tentunya kita harus tahu
terlebih dahulu penyebab permasalahan tersebut. Berdasarkan link yang saya
baca dan menginspirasi saya untuk membahas topik ini- ada lima hal yang
menjadi penyebab permasalahan budaya di Indonesia. Kelima hal itu adalah..
1. Kurangnya
Regenerasi
Budaya adalah sesuatu yang diwariskan turun temurun. Jadi upaya pelestariannya membutuhkan regenerasi yang berkelanjutan. Sayangnya, hanya sedikit generasi muda kita yang mau mempelajari dan mengenal kebudayaan bangsa sendiri.
Budaya adalah sesuatu yang diwariskan turun temurun. Jadi upaya pelestariannya membutuhkan regenerasi yang berkelanjutan. Sayangnya, hanya sedikit generasi muda kita yang mau mempelajari dan mengenal kebudayaan bangsa sendiri.
2. Kurangnya
Rasa Memiliki
Perasaan memiliki akan membuat kita menjaga apa yang kita miliki dan menghargainya. Sayangnya, perasaan memiliki bangsa Indonesia hanya timbul ketika ada bangsa lain yang berupaya mematenkan kebudayaan kita. Kemana saja kita sebelumnya? Bila bangsa lain bisa mematenkan kebudayaannya, mengapa kita harus menunggu kebudayaan kita direbut dulu baru mematenkannya? Kurangnya rasa memiliki membuat kita menyepelekan budaya yang telah kita miliki
Perasaan memiliki akan membuat kita menjaga apa yang kita miliki dan menghargainya. Sayangnya, perasaan memiliki bangsa Indonesia hanya timbul ketika ada bangsa lain yang berupaya mematenkan kebudayaan kita. Kemana saja kita sebelumnya? Bila bangsa lain bisa mematenkan kebudayaannya, mengapa kita harus menunggu kebudayaan kita direbut dulu baru mematenkannya? Kurangnya rasa memiliki membuat kita menyepelekan budaya yang telah kita miliki
3. Kurangnya
Penghargaan dari Pemerintah
Di negara-negara maju, misalnya Jepang dan Korea, kebudayaan sangat diperhatikan. Hal ini dapat kita lihat dari film, manga, dan anime yang banyak ditayangkan di layar kaca. Beragam festival dan perayaan-perayaan diadakan untuk mempertahankan kebudayaan negara mereka. Bahkan rumah tradisional mereka pun banyak ditampilkan dalam film-film mereka yang di’ekspor’ demi menonjolkan kebudayaan negara mereka. Lalu, bagaimana dengan kita? Harus diakui bahwa pemerintah kita kurang memperhatikan budaya Indonesia. Hal ini terlihat dari minimnya anggaran yang disediakan pemerintah untuk program-program budaya Indonesia
Di negara-negara maju, misalnya Jepang dan Korea, kebudayaan sangat diperhatikan. Hal ini dapat kita lihat dari film, manga, dan anime yang banyak ditayangkan di layar kaca. Beragam festival dan perayaan-perayaan diadakan untuk mempertahankan kebudayaan negara mereka. Bahkan rumah tradisional mereka pun banyak ditampilkan dalam film-film mereka yang di’ekspor’ demi menonjolkan kebudayaan negara mereka. Lalu, bagaimana dengan kita? Harus diakui bahwa pemerintah kita kurang memperhatikan budaya Indonesia. Hal ini terlihat dari minimnya anggaran yang disediakan pemerintah untuk program-program budaya Indonesia
4. Konsep
Pelestarian Budaya yang Kurang Tepat
Melestarikan budaya tidak berarti hanya melakukan sesuatu demi tetap adanya budaya tersebut, tetapi lebih dari itu. Perlu adanya pengembangan-pengembangan kebudayaan tanpa menghilangkan inti dari budaya itu sendiri. Misalnya demi melestarikan makanan tradisional Roti Buaya, dibuatlah inovasi dengan mengisi roti buaya tersebut dengan berbagai rasa, ukuran atau dijadikan oleh-oleh
Melestarikan budaya tidak berarti hanya melakukan sesuatu demi tetap adanya budaya tersebut, tetapi lebih dari itu. Perlu adanya pengembangan-pengembangan kebudayaan tanpa menghilangkan inti dari budaya itu sendiri. Misalnya demi melestarikan makanan tradisional Roti Buaya, dibuatlah inovasi dengan mengisi roti buaya tersebut dengan berbagai rasa, ukuran atau dijadikan oleh-oleh
5. Masyarakat
yang terlalu mudah menyerap budaya luar
Sikap masyarakat yang terlalu mudah ikut-ikutan dengan budaya luar dan menganggap sepele kebudayaan sendiri menimbulkan kurangnya rasa memiliki dan lunturnya nilai-nilai kebudayaan bangsa. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa hal yang keren adalah hal-hal yang berasal dari luar negeri sehingga budaya luar dengan mudah menggeser nilai kebudayaan domestik.
Sikap masyarakat yang terlalu mudah ikut-ikutan dengan budaya luar dan menganggap sepele kebudayaan sendiri menimbulkan kurangnya rasa memiliki dan lunturnya nilai-nilai kebudayaan bangsa. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa hal yang keren adalah hal-hal yang berasal dari luar negeri sehingga budaya luar dengan mudah menggeser nilai kebudayaan domestik.
Solusi
Mengatasi Masalah Kebudayaan
1. Dengan kemajuan teknologi seharusnya ada batasan-batasan agar
tidak terjadi penyelewengan hal-hal yang tidak di inginkan dan dapat
merusak kebudayaan yang ada
2. masyarakat harus lebih
bijaksana dalam menghadapi masalah
3. Dengan adanya perbedaan
kebudayaan kita itu seharusnya saling menghormati dan menghargai perbedaan
tersebut.
4. Bertingkahlaku yang baik
antar manusia itu yang dapat menjadikan lingkungan lebih nyaman dan tentram.
Referensi :
http://yanuirdianto.wordpress.com/2013/03/10/96/
http://felicialicefi.blogspot.com/2013/11/masalah-budaya-di-indonesia.html
http://indahswari.blogspot.com/2011/03/masalah-penyebab-dan-solusi-budaya.html
http://felicialicefi.blogspot.com/2013/11/masalah-budaya-di-indonesia.html
http://indahswari.blogspot.com/2011/03/masalah-penyebab-dan-solusi-budaya.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar