Ekonomi merupakan hal yang tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan manusia. Seiring perkembangan zaman ,tentu kebutuhan
terhadap manusia bertambah oleh karena itu ekonomi secara terus-menerus
mengalami pertumbuhan dan perubahan. Perubahan yang secara umum terjadi pada
perekonomian yang dialami suatu negara seperti inflasi ,pengangguran ,
kesempatan kerja, hasil produksi,dan sebagainya. Jika hal ini ditangani dengan
tepat maka suatu negara mengalami keadaan ekonomi yang stabil, mempengaruhi
kesejahteraan kehidupan penduduk yang ada negara tersebut. Sudah hampir 66
tahun Indonesia merdeka. Akan tetapi kondisi perekonomian Indonesia tidak juga
membaik. Masih terdapat ketimpangan ekonomi, tingkat kemiskinan dan
pengangguran masih tinggi, serta pendapatan per kapita yang masih rendah.
Perekonomian
suatu negara tidak terlepas dari perekonomian negara lainnya dalam suatu
perekonomian global. Proses globalisasi ini mengakibatkan masayarakat dan
negara didunia terkoneksi bahkan semakin membuat adanya ketergantungan satu
sama lainnya tidak hanya dalam hal ekonomi dan teknologi namun secara politik
dan budaya. Tanpa disadari perekonomian dunia dewasa ini semakin menuju pada
mekanisme pasar yang kompetitif untuk barang dan jasa, modal dan teknologi
untuk memecahkan perekonomian nasional. Implementasi dari keterkaitan dan
ketergantungan satu negara dengan negara lainnya adalah ketatnya persaingan
baik dalam hal produk barang dan jasa, modal, teknologi, sumber daya manusia.
Khusus untuk pasar Investasi, memungkinkan suatu negara berkompetisi dalam hal
penyediaan fasilitas dan prosedur yang memadai untuk kegiatan investasi.
Apabila suatu negara kurang akomodatif terhadap pasar global ini bahkan kurang
memiliki keunggulan akan dapat membahayakan negara tersebut dan terdepak oleh
negara lain yang lebih unggul dan lebih terbuka terhadap perekonomiannnya.
Globalisasi
telah mengakibatkan terjadinya keterkaitan antar bangsa dan persaingan antar
bangsa. Keterkaitan dan ketergantungan antar negara sebagai akibat globalisasi
akan menimbulkan persaingan dan persaingan ini masing-masing negara akan
meningkatkan daya saing yang pada akhirnya terwujud dalam hubungan perdagangan.
Dengan globalosasi setiap negara akan sangat penting untuk meningkatkan daya
saing karena hanya negara yang memiliki daya saing produk dan SDM yang baik dan
dengan dukungan infrastrutur, teknologi, serta sistem dan kualitas kerja yang
baik dan efisien, serta budaya korporasi yang baik, yang akan mampu
memanfaatkan dan menang dalam mengambil peluang globalisasi tersebut. Globalisasi yang melahirkan
perdagangan bebas pada dasarnya tidak muncul untuk menjadi ancaman bagi suatu
negara, namun merupakan peluang bagi seluruh negara di dunia untuk meningkatkan
kinerja ekonominya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Globalisasi membuat suatu negara menyiapakan SDM untuk memiliki kualifikasi
pesaing dalam persaingan pasar global sehingga dapat menjadi pelaku ekonomi dan
pelaku yang kreaif dan inovatif dalam pasar tenaga kerja.
Kondisi Perekonomian Global
Badai krisis ekonomi AS tahun 2008 dan krisis keuangan negara Eropa di akhir tahun 2014 hampir berlalu dan mengarah pada kondisi ekonomi sebelum krisis tersebut dengan adanya tanda-tanda pertumbuhan ekonomi positif serta adanya peningkatan lapangan pekerjaan di negara-negara tersebut. Terpuruknya Ekonomi Jepang di akhir tahun 2014 juga diawal tahun 2015 ini telah menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang positif. Kondisi perekonomian global yang dimotori oleh AS, Uni Eropa, Rusia, Cina, Arab Saudi dan Jepang akan membawa dampak pada perekonomian global. Kekuatan ekonomi beberapa negara ini menyebabkan banyak negara memiliki ketergantungan tinggi secara ekonomi.
Badai krisis ekonomi AS tahun 2008 dan krisis keuangan negara Eropa di akhir tahun 2014 hampir berlalu dan mengarah pada kondisi ekonomi sebelum krisis tersebut dengan adanya tanda-tanda pertumbuhan ekonomi positif serta adanya peningkatan lapangan pekerjaan di negara-negara tersebut. Terpuruknya Ekonomi Jepang di akhir tahun 2014 juga diawal tahun 2015 ini telah menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang positif. Kondisi perekonomian global yang dimotori oleh AS, Uni Eropa, Rusia, Cina, Arab Saudi dan Jepang akan membawa dampak pada perekonomian global. Kekuatan ekonomi beberapa negara ini menyebabkan banyak negara memiliki ketergantungan tinggi secara ekonomi.
Kondisi yang diwaspadai bahwa perekonomian dunia saat ini
diperhadapkan pada kebijakan The Fed yang menaikkan suku bunga di tahun 2015
ini. Kebijakan The Fed yang menaikkan suku bunga berdampak pada penguatan mata
uang US dollar terhadap mata uang lainnya secara berkelanjutan. Selain itu,
menurunnya harga pasar dan komoditas akan terus menghambat pemenuhan kebutuhan
domestic suatu negara pengeksport komoditas tersebut. Kemudian jatuhnya harga
minyak mentah akan berdampak negative terhadap negara pengeksport yakni akan
memperlemah aktifitas perekonomian negara tersebut, namun juga berdampak
positif terhadap negara pengimport untuk memperbaiki neraca perdagangannya.
Kondisi Perekonomian Indonesia
Perekonomian Indonesia di kwartal I tahun 2015 ini yang paling menonjol adalah jatuhnya nilai tukar rupiah. Secara ekonomi Rupiah adalah harga diri bangsa Indonesia oleh karena Rupiah adalah milik bangsa dan negara Indonesia. Oleh karenanya tidak dapat disangkal bahwa penurunan nilai rupiah adalah penurunan terhadap harga diri bangsa Indonesia. Beberapa kebijakan fiscal dan moneter telah dibuat namun sampai awal Juni 2015 ini nilai tukar rupiah terhadap US dolar belum juga stabil bahkan sudah mencapai $1 US sudah bertengger diatas Rp 13.300,-. Benar bahwa menurunnya nilai tukar rupiah akan menguntungkan pelaku eksport, namun harga komoditas dunia sementara ini menurun dan negara-nagara pengimport terhadap barang Indonesia belum sepenuhya bangkit dari krisis ekonomi seperti Amerika, Eropa dan Jepang, dan negara-negara inilah pasar tradisional Indonesia.
Pelemahan rupiah akhir-akhir ini terjadi oleh karena kinerja neraca pembayaran Indonesia yang negative atau defisit transaksi berjalan. Kinerja ini nampak pada Investasi Asing yang masuk di dalam Negeri yang belum maksimal. Selain itu yang paling utama mengguncang nilai tukar rupiah adalah memebengkaknya pemerintah dan Swasta. Dengan menurunnya nilai tukar rupiah secara langsung akan meningkatkan jumlah utang dan hal ini pasti akan meningatkan permintaan valas khususnya dolar US,
Sementara pada sisi lain, pendapatan dolar hasil dari ekspor terus menurun, karena permintaan bahan baku dari negara pengenskpor alias negara maju juga turun, karena faktor internal ini terjadi di semua negara. Selain itu, investasi disektor financial ini sangat rentan dan waktunya sangat jangka pendek sehingga dengan mudah terjadi capital out fly dan akan mengganggu stabilitas nilai kurs rupiah. Selain itu sebagau akibat dari kebijakan The Fed menaikkan tingkat suku bunga akan makin membahayakan permintaan US dolar.
Perekonomian Indonesia di kwartal I tahun 2015 ini yang paling menonjol adalah jatuhnya nilai tukar rupiah. Secara ekonomi Rupiah adalah harga diri bangsa Indonesia oleh karena Rupiah adalah milik bangsa dan negara Indonesia. Oleh karenanya tidak dapat disangkal bahwa penurunan nilai rupiah adalah penurunan terhadap harga diri bangsa Indonesia. Beberapa kebijakan fiscal dan moneter telah dibuat namun sampai awal Juni 2015 ini nilai tukar rupiah terhadap US dolar belum juga stabil bahkan sudah mencapai $1 US sudah bertengger diatas Rp 13.300,-. Benar bahwa menurunnya nilai tukar rupiah akan menguntungkan pelaku eksport, namun harga komoditas dunia sementara ini menurun dan negara-nagara pengimport terhadap barang Indonesia belum sepenuhya bangkit dari krisis ekonomi seperti Amerika, Eropa dan Jepang, dan negara-negara inilah pasar tradisional Indonesia.
Pelemahan rupiah akhir-akhir ini terjadi oleh karena kinerja neraca pembayaran Indonesia yang negative atau defisit transaksi berjalan. Kinerja ini nampak pada Investasi Asing yang masuk di dalam Negeri yang belum maksimal. Selain itu yang paling utama mengguncang nilai tukar rupiah adalah memebengkaknya pemerintah dan Swasta. Dengan menurunnya nilai tukar rupiah secara langsung akan meningkatkan jumlah utang dan hal ini pasti akan meningatkan permintaan valas khususnya dolar US,
Sementara pada sisi lain, pendapatan dolar hasil dari ekspor terus menurun, karena permintaan bahan baku dari negara pengenskpor alias negara maju juga turun, karena faktor internal ini terjadi di semua negara. Selain itu, investasi disektor financial ini sangat rentan dan waktunya sangat jangka pendek sehingga dengan mudah terjadi capital out fly dan akan mengganggu stabilitas nilai kurs rupiah. Selain itu sebagau akibat dari kebijakan The Fed menaikkan tingkat suku bunga akan makin membahayakan permintaan US dolar.
Pelemahan rupiah benar akan menguntungkan pelaku eksport namun
akan memukul importir khususnya import barang modal dan bahan baku
infrastruktur di tanah air. Ditengah pencanangan program pemerintah untuk
percepatan pembangunan infrastruktur akan terkendala dengan mahalnya bahan baku
dan barang modal. Importir melemah akan membahayakan perekonomian nasional oleh
karena tidak sedikit sumber daya yang ada pada usaha tersebut. Pelemahan nilai
tukar juga akan meningkatkan harga barang di pasar khususnya barang impor
maupun barang yang bahan bakunya adalah impor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar